Mamalia
1. Inventarisasi Jenis
Berdasarkan hasil inventarisasi mamalia di area PLN NP UP Pulang Pisau, tercatat sebanyak 6 jenis mamalia dengan total 45 individu yang tersebar pada empat zona pemantauan. Jenis mamalia yang ditemukan terdiri atas beberapa kelompok ekologis, meliputi primata, pengerat, bajing, dan tupai. Keberadaan kelompok mamalia dengan karakter ekologis yang berbeda menunjukkan bahwa area pemantauan masih menyediakan berbagai komponen habitat yang dapat dimanfaatkan untuk mencari makan (foraging), bergerak, berlindung, maupun beristirahat (Morrison et al., 2012). Komposisi mamalia pada suatu kawasan umumnya dipengaruhi oleh kondisi vegetasi, ketersediaan sumber pakan, keberadaan tempat berlindung, serta keterhubungan antarhabitat (Morrison et al., 2012; Fahrig, 2017).
2. Status Konservasi
| No | Famili | Nama Jenis | Nama Lokal | P.106 | IUCN | CITES |
| 1 | Cercopithecidae | Macaca fascicularis | Monyet ekor-panjang | EN | II | |
| 2 | Cercopithecidae | Nasalis larvatus | Bekantan | √ | EN | I |
| 3 | Cercopithecidae | Trachypithecus cristatus | Lutung kelabu | √ | VU | II |
| 4 | Muridae | Rattus tiomanicus | Tikus pohon | LC | ||
| 5 | Sciuridae | Callosciurus notatus | Bajing kelapa | LC | ||
| 6 | Tupaiidae | Tupaia minor | Tupai kecil | LC | II |
Berdasarkan Permen LHK P.106 Tahun 2018, terdapat 2 jenis mamalia yang termasuk satwa dilindungi, yaitu bekantan (Nasalis larvatus) dan lutung kelabu (Trachypithecus cristatus). Berdasarkan kategori IUCN Red List, terdapat dua jenis dengan kategori Endangered (EN), yaitu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan bekantan (Nasalis larvatus), serta satu jenis dengan kategori Vulnerable (VU), yaitu lutung kelabu (Trachypithecus cristatus). Monyet ekor panjang tercatat dalam kategori Endangered berdasarkan penilaian IUCN karena adanya indikasi penurunan populasi dan berbagai tekanan terhadap populasinya di sebagian wilayah sebaran (Hansen et al., 2022). Berdasarkan daftar CITES, terdapat 4 jenis mamalia yang termasuk dalam pengaturan perdagangan internasional. Bekantan (Nasalis larvatus) termasuk Appendix I, sedangkan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), lutung kelabu (Trachypithecus cristatus), dan tupai kecil (Tupaia minor) termasuk Appendix II.
3. Indeks Keanekaragaman Hayati
| Indeks | Zona 1 | Zona 2 | Zona 3 | Zona 4 | Total | Keterangan |
| N (Jumlah Individu) | 16 | 8 | 16 | 5 | 45 | – |
| S (Jumlah Jenis) | 4 | 3 | 3 | 2 | 6 | – |
| H` ( Keanekaragaman) | 1,25 | 1,08 | 0,97 | 0,67 | 1,61 | Sedang |
Secara keseluruhan, nilai H’ sebesar 1,61 menunjukkan bahwa komunitas mamalia di area PLN NP UP Pulang Pisau memiliki tingkat keanekaragaman sedang, dengan total 6 jenis dan 45 individu. Zona 1 memiliki keanekaragaman tertinggi karena didukung oleh jumlah jenis yang lebih banyak dan distribusi individu yang relatif tersebar, sedangkan Zona 4 memiliki nilai terendah terutama karena hanya ditemukannya dua jenis mamalia. Selain nilai keanekaragaman, keberadaan jenis dengan nilai konservasi penting seperti bekantan (Nasalis larvatus) dan lutung kelabu (Trachypithecus cristatus) juga menjadi aspek penting dalam pengelolaan kawasan. Oleh karena itu, upaya pengelolaan habitat perlu mempertimbangkan pemeliharaan struktur dan tutupan vegetasi, pohon pakan dan pohon tempat beristirahat, habitat riparian, serta konektivitas vegetasi antarzona untuk mempertahankan fungsi ekologis kawasan bagi komunitas mamalia (Morrison et al., 2012; Fahrig, 2017).
4. Tren Mamalia

Tren pemantauan mamalia di area PLN NP UP Pulang Pisau selama periode 2024–2026, terlihat adanya peningkatan baik pada jumlah jenis maupun jumlah individu yang tercatat pada setiap tahun pengamatan. Jumlah individu meningkat dari 12 individu pada tahun 2024 menjadi 24 individu pada tahun 2025, kemudian kembali meningkat menjadi 45 individu pada tahun 2026. Pola yang sama juga terlihat pada jumlah jenis, yaitu meningkat dari 4 jenis pada tahun 2024 menjadi 5 jenis pada tahun 2025 dan 6 jenis pada tahun 2026. Dengan demikian, selama tiga periode pemantauan terakhir, hasil inventarisasi menunjukkan kecenderungan peningkatan jumlah jenis dan jumlah individu mamalia yang terdeteksi di area pemantauan.
5. Tren Mamalia Dilindungi

Berdasarkan grafik tren pemantauan mamalia dilindungi di area PLN NP UP Pulang Pisau selama periode 2024–2026, terlihat adanya dinamika pada jumlah individu yang teramati, sementara jumlah jenis cenderung meningkat kemudian stabil. Pada tahun 2024 tercatat sebanyak 1 individu dari 1 jenis mamalia dilindungi. Jumlah tersebut meningkat cukup tajam pada tahun 2025 menjadi 18 individu yang berasal dari 2 jenis, kemudian menurun pada tahun 2026 menjadi 13 individu, dengan jumlah jenis tetap sebanyak 2 jenis. Pola tersebut menunjukkan bahwa selama tiga tahun pemantauan, jumlah jenis mamalia dilindungi yang terdeteksi mengalami peningkatan, sedangkan jumlah individu menunjukkan pola fluktuatif.
Burung
1. Inventarisasi Jenis
Berdasarkan hasil inventarisasi burung di area PLN NP UP Pulang Pisau, tercatat sebanyak 43 jenis burung dengan total 181 individu yang tersebar pada empat zona pemantauan. Jenis burung yang ditemukan berasal dari berbagai famili dengan karakter ekologis yang beragam, mulai dari kelompok pemakan serangga (insectivore), pemakan biji (granivore), pemakan buah (frugivore), pemakan nektar (nectarivore), burung air, hingga burung pemangsa. Keberadaan berbagai kelompok ekologis tersebut menunjukkan bahwa area pemantauan masih menyediakan beragam komponen habitat yang dapat dimanfaatkan oleh komunitas burung untuk aktivitas mencari makan (foraging), berlindung, bergerak, dan menggunakan kawasan sebagai bagian dari ruang aktivitasnya. Komposisi komunitas burung pada suatu kawasan sangat dipengaruhi oleh kondisi habitat, terutama struktur vegetasi, heterogenitas lanskap, ketersediaan sumber pakan, keberadaan badan air, serta tingkat konektivitas antarhabitat (MacArthur & MacArthur, 1961; Morrison et al., 2012).
2. Status Konservasi
| No | Famili | Nama Jenis | Nama Lokal | Status Konservasi | ||
| P.106 | IUCN | CITES | ||||
| 1 | Acanthizidae | Gerygone sulphurea | Remetuk laut | LC | ||
| 2 | Aegithinidae | Aegithina tiphia | Cipoh kacat | LC | ||
| 3 | Alcedinidae | Alcedo meninting | Raja-udang meninting | LC | ||
| 4 | Alcedinidae | Halcyon smyrnensis | Cekakak belukar | LC | ||
| 5 | Alcedinidae | Pelargopsis capensis | Pekaka emas | LC | ||
| 6 | Apodidae | Collocalia linchi | Walet linci | LC | ||
| 7 | Ardeidae | Ardeola speciosa | Blekok sawah | LC | ||
| 8 | Ardeidae | Ixobrychus cinnamomeus | Bambangan merah | LC | ||
| 9 | Ardeidae | Ixobrychus sinensis | Bambangan kuning | LC | ||
| 10 | Artamidae | Artamus leucorynchus | Kekep babi | LC | ||
| 11 | Campephagidae | Lalage nigra | Kapasan kemiri | LC | ||
| 12 | Caprimulgidae | Caprimulgus affinis | Cabak kota | LC | ||
| 13 | Charadriidae | Charadrius dubius | Cerek kalung-kecil | LC | ||
| 14 | Cisticolidae | Orthotomus ruficeps | Cinenen kelabu | LC | ||
| 15 | Cisticolidae | Prinia flaviventris | Perenjak rawa | LC | ||
| 16 | Columbidae | Spilopelia chinensis | Tekukur biasa | LC | ||
| 17 | Cuculidae | Cacomantis merulinus | Wiwik kelabu | LC | ||
| 18 | Cuculidae | Centropus bengalensis | Bubut alang-alang | LC | ||
| 19 | Cuculidae | Phaenicophaeus curvirostris | Kadalan birah | LC | ||
| 20 | Cuculidae | Phaenicophaeus diardi | Kadalan beruang | NT | ||
| 21 | Cuculidae | Surniculus lugubris | Kedasi hitam | LC | ||
| 22 | Dicaeidae | Dicaeum trigonostigma | Cabai bunga-api | LC | ||
| 23 | Estrildidae | Lonchura atricapilla | Bondol rawa | LC | ||
| 24 | Estrildidae | Lonchura fuscans | Bondol kalimantan | LC | ||
| 25 | Estrildidae | Lonchura punctulata | Bondol peking | LC | ||
| 26 | Eurylaimidae | Cymbirhynchus macrorhynchos | Sempur-hujan sungai | LC | ||
| 27 | Hirundinidae | Hirundo javanica | Layang-layang batu | LC | ||
| 28 | Meropidae | Merops viridis | Kirik-kirik biru | LC | ||
| 29 | Motacillidae | Anthus novaeseelandiae | Apung tanah | LC | ||
| 30 | Nectariniidae | Aethopyga siparaja | Burung-madu sepah-raja | √ | LC | |
| 31 | Nectariniidae | Anthreptes malacensis | Burung-madu kelapa | LC | ||
| 32 | Nectariniidae | Chalcoparia singalensis | Burung-madu belukar | LC | ||
| 33 | Passeridae | Passer montanus | Burung-gereja erasia | LC | ||
| 34 | Pellorneidae | Mixornis bornensis | Ciung air coreng | LC | ||
| 35 | Picidae | Picoides moluccensis | Caladi tilik | LC | ||
| 36 | Picidae | Sasia abnormis | Tukik tikus | LC | ||
| 37 | Pycnonotidae | Pycnonotus analis | Merbah cerukcuk | LC | ||
| 38 | Pycnonotidae | Pycnonotus aurigaster | Cucak kutilang | LC | ||
| 39 | Rallidae | Amaurornis phoenicurus | Kareo padi | LC | ||
| 40 | Rhipiduridae | Rhipidura javanica | Kipasan belang | √ | LC | |
| 41 | Scolopacidae | Actitis hypoleucos | Trinil pantai | LC | ||
| 42 | Sturnidae | Acridotheres javanicus | Kerak kerbau | VU | ||
| 43 | Sturnidae | Aplonis panayensis | Perling kumbang | LC | ||
Berdasarkan hasil evaluasi status IUCN, sebanyak 41 jenis burung yang ditemukan berada dalam kategori Least Concern (LC). Selain itu, terdapat satu jenis dengan status konservasi yang lebih tinggi, yaitu kerak kerbau (Acridotheres javanicus) yang termasuk kategori Vulnerable (VU). Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, ditemukan sebanyak 2 jenis burung yang termasuk satwa dilindungi, yaitu burung-madu sepah-raja (Aethopyga siparaja) dan kipasan belang (Rhipidura javanica). Berdasarkan daftar CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), seluruh jenis burung yang ditemukan pada area PLN NP UP Pulang Pisau tidak tercatat dalam Appendix I, II, maupun III CITES.
3. Indeks Keanekaragaman Hayati
| Indeks | Zona 1 | Zona 2 | Zona 3 | Zona 4 | Total | Keterangan |
| N (Jumlah Individu) | 76 | 29 | 24 | 52 | 181 | – |
| S (Jumlah Jenis) | 27 | 17 | 13 | 15 | 43 | – |
| H` ( Keanekaragaman) | 3,14 | 2,71 | 2,48 | 2,56 | 3,55 | Tinggi |
Secara keseluruhan, hasil analisis menunjukkan bahwa komunitas burung di area PLN NP UP Pulang Pisau memiliki tingkat keanekaragaman tinggi dengan nilai H’ total sebesar 3,55. Zona 1 menjadi zona dengan kontribusi terbesar terhadap keanekaragaman burung berdasarkan jumlah jenis, jumlah individu, dan nilai indeks tertinggi. Meskipun terdapat variasi nilai antarzona, seluruh zona masih menunjukkan kemampuan dalam mendukung komunitas burung yang beragam. Oleh karena itu, pemeliharaan struktur vegetasi, keberadaan area hijau, konektivitas antarhabitat, serta perlindungan terhadap elemen habitat penting perlu terus dilakukan untuk mempertahankan fungsi ekologis kawasan sebagai habitat pendukung bagi berbagai jenis burung (Fahrig, 2017; Morrison et al., 2012).
4. Tren Burung

Berdasarkan grafik tren pemantauan burung di area PLN NP UP Pulang Pisau selama periode 2024–2026, terlihat adanya peningkatan baik pada jumlah jenis maupun jumlah individu burung yang tercatat selama periode pengamatan. Jumlah jenis burung meningkat secara bertahap dari 36 jenis pada tahun 2024 menjadi 40 jenis pada tahun 2025, kemudian kembali meningkat menjadi 43 jenis pada tahun 2026. Pola peningkatan juga terlihat pada jumlah individu, yaitu dari 113 individu pada tahun 2024 menjadi 174 individu pada tahun 2025 dan mencapai 181 individu pada tahun 2026. Tren tersebut menunjukkan bahwa area pemantauan masih mampu mendukung keberadaan komunitas burung dengan komposisi jenis dan jumlah individu yang semakin meningkat selama tiga periode pengamatan.
5. Tren Burung Dilindungi

Berdasarkan grafik tren pemantauan burung dilindungi di area PLN NP UP Pulang Pisau selama periode 2024–2026, terlihat adanya peningkatan jumlah individu burung dilindungi yang tercatat, sementara jumlah jenis menunjukkan pola yang relatif stabil setelah mengalami peningkatan pada awal periode pemantauan. Pada tahun 2024 tercatat sebanyak 2 individu dari 2 jenis burung dilindungi. Jumlah individu kemudian meningkat menjadi 6 individu pada tahun 2025 dengan jumlah jenis sebanyak 2 jenis, dan kembali meningkat menjadi 8 individu pada tahun 2026 dengan jumlah jenis yang tetap sebanyak 2 jenis. Pola tersebut menunjukkan bahwa peningkatan hasil pemantauan terutama terjadi pada jumlah individu yang teramati, sedangkan komposisi jenis burung dilindungi yang ditemukan relatif konsisten dalam dua tahun terakhir.
Herpetofauna
1. Inventarisasi Jenis
Berdasarkan hasil inventarisasi herpetofauna mencatat 18 jenis dari 12 famili dengan jumlah keseluruhan 48 individu. Hasil tersebut terdiri atas tujuh jenis amfibi dari empat famili dengan 19 individu dan 11 jenis reptil dari delapan famili dengan 29 individu.
2. Status Konservasi
| No | Kelas | Famili | Nama Ilmiah | Nama lokal | IUCN | CITES | P.106 |
| 1 | Amfibi | Bufonidae | Duttaphrynus melanostictus | Kodok buduk | LC | ||
| 2 | Amfibi | Bufonidae | Ingerophrynus biporcatus | Kodok-puru hutan | LC | ||
| 3 | Amfibi | Dicroglossidae | Fejervarya cancrivora | Katak sawah | LC | ||
| 4 | Amfibi | Dicroglossidae | Fejervarya limnocharis | Katak tegalan | LC | ||
| 5 | Amfibi | Ranidae | Chalcorana chalconota | Kongkang kolam | LC | ||
| 6 | Amfibi | Ranidae | Hylarana baramica | Kongkang baram | LC | ||
| 9 | Amfibi | Rhacophoridae | Polypedates leucomystax | Katak-pohon bergaris | LC | ||
| 12 | Reptil | Colubridae | Dendrelaphis pictus | Ular tambang | LC | ||
| 13 | Reptil | Colubridae | Ptyas carinata | Ular-tikus raja | LC | ||
| 15 | Reptil | Elapidae | Naja sputatrix | Ular-sendok jawa | LC | II | |
| 16 | Reptil | Elapidae | Ophiophagus hannah | Ular lanang | VU | II | |
| 17 | Reptil | Gekkonidae | Hemidactylus Frenatus | Cecak kayu | LC | ||
| 18 | Reptil | Gekkonidae | Hemidactylus platyurus | Cecak tembok | LC | ||
| 20 | Reptil | Pareidae | Pareas carinatus | Ular siput | LC | ||
| 21 | Reptil | Pythonidae | Malayopython reticulatus | Sanca kembang | LC | II | |
| 22 | Reptil | Scincidae | Eutropis multifasciata | Kadal kebun | LC | ||
| 23 | Reptil | Typhlopidae | Indotyphlops braminus | Ular kawat | LC | ||
| 24 | Reptil | Varanidae | Varanus salvator | Biawak air | LC | II |
Berdasarkan status Daftar Merah IUCN, sebanyak 17 dari 18 jenis herpetofauna yang teridentifikasi atau sekitar 94,44% termasuk dalam kategori Least Concern (LC), sedangkan satu jenis atau 5,56% termasuk kategori Vulnerable (VU). Berdasarkan CITES, terdapat empat jenis atau sekitar 22,22% dari keseluruhan herpetofauna yang termasuk dalam Appendix II, yaitu Naja sputatrix, Ophiophagus hannah, Malayopython reticulatus, dan Varanus salvator. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018, tidak terdapat jenis dalam daftar tersebut yang berstatus dilindungi secara nasional.
3. Indeks Keanekaragaman Hayati
| Indeks | Zona 1 | Zona 2 | Zona 3 | Zona 4 | Total | Keterangan |
| N (Jumlah Individu) | 19 | 14 | 9 | 11 | 53 | – |
| S (Jumlah Jenis) | 8 | 7 | 6 | 7 | 18 | – |
| H`(Keanekaragaman) | 1,99 | 1,91 | 1,74 | 1,77 | 2,60 | Sedang |
Secara keseluruhan, nilai H’ = 2,60 menunjukkan bahwa kondisi area pemantauan masih mampu menopang komunitas herpetofauna dengan tingkat keanekaragaman sedang. Upaya pengelolaan perlu diarahkan pada pemeliharaan badan air, tutupan vegetasi, serasah, tempat berlindung, dan konektivitas antarzona. Pemantauan secara berkala dengan metode, waktu, dan intensitas pengamatan yang konsisten juga diperlukan agar perubahan nilai keanekaragaman pada periode berikutnya dapat dibandingkan secara objektif. Perbedaan nilai H’ tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi habitat, tetapi juga oleh musim, cuaca, waktu survei, aktivitas satwa, dan peluang perjumpaan setiap jenis (Heyer et al., 1994; McDiarmid et al., 2012).
4. Tren Herpetofauna

Berdasarkan hasil pemantauan selama periode 2024–2026, jumlah jenis dan jumlah individu herpetofauna menunjukkan pola yang berfluktuasi, yaitu mengalami penurunan ringan pada tahun 2025 dan meningkat cukup tajam pada tahun 2026. Pada tahun 2024 tercatat 12 jenis dengan 39 individu. Jumlah tersebut menurun pada tahun 2025 menjadi 11 jenis dengan 37 individu. Penurunan ini setara dengan 8,33% untuk jumlah jenis dan 5,13% untuk jumlah individu. Perubahan yang relatif kecil menunjukkan adanya fluktuasi antartahun, tetapi belum cukup untuk menunjukkan terjadinya penurunan komunitas herpetofauna secara berkelanjutan.
Serangga
1. Inventarisasi Jenis
Berdasarkan hasil inventarisasi, ditemukan 137 individu serangga yang terdiri atas 28 jenis dan tiga ordo, yaitu Hymenoptera, Lepidoptera, dan Odonata. Lepidoptera merupakan ordo dengan kelimpahan dan kekayaan jenis tertinggi, yakni 67 individu dari 12 jenis atau 48,91% dari seluruh individu. Odonata ditemukan sebanyak 47 individu dari 10 jenis atau 34,31%, sedangkan Hymenoptera tercatat sebanyak 23 individu dari enam jenis atau 16,79%.
2. Status Konservasi
| No | Ordo | Famili | Nama Ilmiah | Nama Lokal | IUCN | CITES | P.106 |
| 1 | Hymenoptera | Apidae | Amegilla andrewsi | Lebah garis biru | NE | – | – |
| 2 | Hymenoptera | Apidae | Apis cerana | Lebah madu Asia | NE | – | – |
| 3 | Hymenoptera | Apidae | Xylocopa aestuans | Lebah kayu | NE | – | – |
| 4 | Hymenoptera | Apidae | Xylocopa dejeanii | Lebah kayu berkerah | NE | – | – |
| 5 | Hymenoptera | Apidae | Xylocopa latipes | Lebah kayu besar | NE | – | – |
| 6 | Hymenoptera | Vespidae | Polistes stigma | Tawon kertas | NE | – | – |
| 7 | Lepidoptera | Hesperiidae | Potanthus omaha | Kupu-kupu skipper kuning | NE | – | – |
| 8 | Lepidoptera | Hesperiidae | Taractrocera ardonia | Kupu-kupu rumput | NE | – | – |
| 9 | Lepidoptera | Lycaenidae | Zizina otis | Kupu-kupu biru kecil | LC | – | – |
| 10 | Lepidoptera | Nymphalidae | Acraea terpsicore | Kupu-kupu bercak jingga | NE | – | – |
| 14 | Lepidoptera | Nymphalidae | Junonia atlites | Kupu-kupu merak abu-abu | NE | – | – |
| 15 | Lepidoptera | Nymphalidae | Junonia orithya | Kupu-kupu merak biru | LC | – | – |
| 17 | Lepidoptera | Nymphalidae | Mycalesis perseus | Kupu-kupu mata coklat | NE | – | – |
| 18 | Lepidoptera | Nymphalidae | Orsotriaena medus | Kupu-kupu mata coklat biasa | NE | – | – |
| 19 | Lepidoptera | Nymphalidae | Pandita sinope | Kupu-kupu Collonel | NE | – | – |
| 20 | Lepidoptera | Nymphalidae | Parthenos sylvia | Kupu-kupu Clipper | NE | – | – |
| 21 | Lepidoptera | Nymphalidae | Ypthima pandocus | Kupu-kupu mata rumput | NE | – | – |
| 23 | Lepidoptera | Pieridae | Catopsilia pomona | Kupu-kupu lemon | NE | – | – |
| 28 | Odonata | Coenagrionidae | Ceriagrion cerinorubellum | Capung jarum merah-hijau | LC | – | – |
| 29 | Odonata | Coenagrionidae | Ischnura senegalensis | Capung jarum ekor biru | LC | – | – |
| 31 | Odonata | Libellulidae | Brachydiplax chalybea | Capung hijau metalik | LC | – | – |
| 32 | Odonata | Libellulidae | Brachythemis contaminata | Capung merah sawah | LC | – | – |
| 33 | Odonata | Libellulidae | Diplacodes trivialis | Capung hijau kebiruan | LC | – | – |
| 34 | Odonata | Libellulidae | Macrodiplax cora | Capung rawa merah | LC | – | – |
| 35 | Odonata | Libellulidae | Neurothemis fluctuans | Capung merah sayap bercak | LC | – | – |
| 36 | Odonata | Libellulidae | Orthetrum sabina | Capung tentara | LC | – | – |
| 38 | Odonata | Libellulidae | Rhodothemis rufa | Capung merah muda | LC | – | – |
| 39 | Odonata | Libellulidae | Rhyothemis variegata | Capung sayap warna-warni | LC | – | – |
Berdasarkan data status konservasi, sebanyak 28 jenis serangga yang teridentifikasi terdiri atas 16 jenis berstatus Not Evaluated (NE) dan 12 jenis berstatus Least Concern (LC) menurut Daftar Merah IUCN. Dengan demikian, jenis berstatus NE mencakup 57,14% dari keseluruhan jenis, sedangkan jenis berstatus LC mencakup 42,86%. Berdasarkan CITES, tidak terdapat satu pun jenis dalam tabel yang tercantum dalam Apendiks I, II, ataupun III. Seluruh jenis serangga yang ditemukan juga tidak tercantum sebagai satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Dengan demikian, secara nasional tidak terdapat jenis yang memperoleh status perlindungan khusus berdasarkan peraturan tersebut.
3. Indeks Keanekaragaman Hayati
| Indeks | Zona 1 | Zona 2 | Zona 3 | Zona 4 | Total | Keterangan |
| N (Jumlah Individu) | 41 | 30 | 16 | 50 | 137 | – |
| S (Jumlah Jenis) | 19 | 18 | 9 | 23 | 28 | – |
| H` (Keanekaragaman) | 2,87 | 2,75 | 1,98 | 3,02 | 3,19 | Tinggi |
Secara keseluruhan, nilai H′ sebesar 3,19 menunjukkan bahwa area pemantauan mampu mendukung komunitas serangga dengan keanekaragaman tinggi. Kondisi ini perlu dipertahankan melalui perlindungan vegetasi berbunga dan tanaman inang, pemeliharaan vegetasi tepi perairan, pengendalian pencemaran badan air, pembatasan penggunaan insektisida, serta pemeliharaan keragaman mikrohabitat. Pemantauan secara berkala dengan metode dan intensitas yang konsisten juga diperlukan untuk mengetahui perubahan jumlah individu, kekayaan jenis, dan struktur komunitas serangga pada setiap zona.
4. Tren Serangga

Berdasarkan hasil pemantauan periode 2024–2026, jumlah individu dan jumlah jenis serangga menunjukkan kecenderungan menurun. Pada tahun 2024 tercatat sebanyak 200 individu dari 32 jenis, kemudian menurun menjadi 138 individu dari 29 jenis pada tahun 2025 dan menjadi 137 individu dari 28 jenis pada tahun 2026. Secara keseluruhan, selama periode 2024–2026 terjadi penurunan sebanyak 63 individu atau 31,50%, sedangkan jumlah jenis berkurang sebanyak empat jenis atau 12,50%. Pola tersebut menunjukkan bahwa penurunan jumlah individu berlangsung lebih besar daripada penurunan jumlah jenis.